Heboh Oli Dicampur Minyak Goreng, Amankah Buat Mesin?

Jakarta – Akhir-akhir ini dunia maya dihebohkan dengan kreasi pemilik motor yang mencampur oli mesin dengan minyak goreng. Di berbagai forum otomotif pun banyak yang membagikan pengalaman mencampur oli mesin dengan minyak goreng.

Salah satu video yang viral adalah video yang diunggah Lasman Sigiro Silalahi di grup Facebook Supra125Holic ( Honda Supra X 125 ). Di sana, terlihat video minyak goreng baru dimasukkan ke mesin melalui lubang untuk memasukkan oli.

“Hahaha buat yang yakin aja emang sih gila tapi mesin adem benar,” tulis Lasman Sigiro Silalahi dalam keterangan videonya belum lama ini.

Lantas, apakah aman menggunakan minyak goreng untuk melumasi mesin? Secara teknis jelas minyak goreng tidak aman untuk digunakan sebagai pelumas mesin kendaraan. Terlebih, produsen pelumas sudah susah-susah membuat formulasi pelumas terbaik untuk kendaraan bermotor. Kenyataannya pelumas yang sudah disediakan produsen oli tersebut dibuat khusus untuk pelumasan mesin agar mesin terlindungi saat digunakan.

Hal itu diperkuat dengan pernyataan dari Product Development PT Pertamina Lubricants, Mia Khrisna. Menurut Mia, pelumas sudah didesain dengan keseimbangan dan komposisi yang sesuai dengan aplikasinya.

“Jika ditambahkan minyak goreng ke dalam formula ini, maka keseimbangan formula akan terganggu yang kemudian akan berakibat negatif pada kinerja pelumas,” kata Mia kepada detikOto melalui pesan singkat.

Memang, secara feeling menambahkan minyak goreng di oli akan menimbulkan tarikan enteng. Karena jelas, minyak goreng memiliki kekentalan yang lebih encer, jadi mesin lebih terasa lebih enak tarikannya.

“Namun minyak goreng tidak dilengkapi dengan aditif yang diperlukan oleh mesin seperti detergent, anti-wear, anti-korosi, dan lain-lain. Sehingga minyak goreng tidak akan memberikan proteksi pada mesin selama penggunaannya,” sebut Mia.

Kalau pelumas saja tidak bisa melindungi mesin, Otolovers bisa membayangkan dong dampak negatif yang ditimbulkan di mesin. Mesin akan berisiko rusak karena tidak memberikan proteksi dari segi aditifnya. Bisa-bisa ruginya lebih mahal untuk membenahi mesin rusak tersebut.

“Bisa dibayangkan jika pelumas ditambahkan minyak goreng yang tanpa aditif, maka kandungan campuran ini akan memiliki aditif yang lebih sedikit daripada yang dibutuhkan oleh mesin,” ujar Mia.

Untuk itu, Mia menyarankan untuk tetap menggunakan pelumas yang dibutuhkan kendaraan. Tingkat kekentalan pelumas (SAE) bisa disesuaikan dengan kebutuhan kendaraan sesuai buku manual kendaraan. Jika ingin tarikan lebih enak, kata Mia, Otolovers bisa menggunakan pelumas yang lebih encer.

“Contohnya jika sebelumnya menggunakan SAE 15W-40, mungkin dapat digantikan dengan 10W-40 atau 5W-40. Jika dalam buku manual masih memungkinkan untuk menggunakan kekentalan yang lebih rendah, maka dapat menggunakan SAE 10W-30 atau 5W-30,” sebut Mia.

Dijelaskan juga sebelumnya, kendaraan terkini membutuhkan pelumas yang lebih encer. Namun, pemilik kendaraan tetap disarankan menggunakan pelumas sesuai dengan rekomendasi pabrikan kendaraan yang sudah tertera di buku manual.

Mia menambahkan, bukan berarti pelumas lebih encer lebih bagus untuk semua kendaraan. Dia mengingatkan, tetap sesuaikan pilihan pelumas dengan rekomendasi pabrikan mobil yang ada di buku manual pemilik.

“Jangan beranggapan bahwa ada pelumas terbaru 0W-20 API SN, misalnya, cocok untuk mobil tahun 1994, dipastikan kalau begitu mesinnya akan rusak. Karena nggak sesuai dengan kebutuhan engine dia, terlalu encer pelumasnya. Jadi lihat buku manual saja,” kata Mia beberapa waktu lalu.

Jadi, menurut Mia, kendaraan lawas bisa menggunakan pelumas yang lebih kental. Sebab, seiring berjalannya waktu, komponen mesin pada mobil yang sudah dipakai lama biasanya memiliki kerapatan yang lebih renggang.

“Misalnya biasanya pakai 20W-50 dan sudah mulai berisik, coba pertimbangkan pakai yang 10W-60. Logikanya, dengan bertambah umur kan mesin akan aus, gap di mesin bertambah, dengan membesarnya gap, dibutuhkan pelumas yang lebih mampu mengisi gap tersebut,” ucap Mia.

Namun, lanjut Mia, tidak selalu memakai pelumas yang lebih kental itu lebih baik. Makanya, Mia menyarankan untuk mencoba terlebih dahulu pakai kendaraannya beberapa kilometer. Kalau dirasa kendaraan lebih enak, berarti memang sudah cocok menggunakan pelumas yang lebih kental itu.

“Tapi ada juga yang tua tapi tidak terlalu tua, misalnya gap di dalam mesinnya tidak sebesar yang perlu 10W-60, mungkin dia perlu yang 20W-50 dulu. Itulah saya bilang coba dulu. Asalkan performance levelnya tetap sesuai buku manual,” ujar Mia. (rgr/ddn)

Post a comment

You must be logged in to post a comment.

Powered by themekiller.com